Wednesday, February 19, 2014

Prasangka

Pada angan yang meroket menuju langit teratas
Kurang tinggikah derajatmu?
Pada label gelar tiga huruf bercampur titik
Banggakah kamu?
Pada otakmu yang terkontaminasi macam virus dunia
Sudah sadarkah kamu?
Pada status sosial yang dipusingkan
Apakah kau terganggu dengan kenyataan?
Pada beragam persoalan manusia
Takutkah kau menghadapi penderitaan?

Tertuju pada individu yang tak sadar terselimuti dengan kepalsuan. Tertuju pada manusia yang tak bisa meletakkan pengalamannya untuk mengetahui sesuatu. Tertuju pada manusia dalam penjara pencitraan. Tertuju pada manusia yang tak mau mengarang dan bertindak pada pembaruan/perubahan. Tertuju pada manusia yang ingin sempurna tapi tak merdeka.
Pewarnaan pada pandangan akan ungkapan hidup pemuda revolusioner dan pemuda terjangkit hiruk pikuk individualnya.

Mari kita tandatangani untuk menunjukkan bahwa pahit ini bisa dibabat tanpa kunjung menyerah. Aku menyarankan kau mengabdi atas nurani, panggil dan ketuklah secepatnya. Maka kau layak diterima karena berpihak pada banyak rakyat. Gelar tinggi jelas tidak indah bila kau “sunyi”.

Wednesday, January 1, 2014

Aksi reaksi

Selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan ketika melihat dia menulis dan membaca tulisannya. Menyadari bahwa dirinya memang belum menjadi seorang tukang cerita yang pandai.Namun dia tengah memperjuangkan salah satu dari impiannya. Pernah dia mendeklarasikan salah satu impiannya padaku, di sebuah tempat yang bukan lagi menjadi tempat tinggalnya. Saat kali pertama mengenalnya dan kita bercerita banyak hal di malam itu.

Malam terakhir di tahun 2013 dia tak mau kehilangan momen tersebut untuk mendekati impiannya. Aku mengapresiasinya. Pancingan itu tetap ada. Tetapi, memang keinginan hatinya juga untuk melakukan.  Kernyitan dahi dan wajah ketidakberdayaan. Kelihatannya dia memang sedang kebingungan apa yang harus diceritakannya. Menangkap juga pemandangan ketegaran, dia semakin meminggirkan kepasrahan, keluhan dan kemalasannya.  Tak mau waktunya sia-sia, semenit kemudian lembaran kertas di layar laptopnya muncul tinta hitam. Kata demi kata dituliskannya. Menerjemahkan imajinasinya. Tidak terbayang akan bentuk ceritanya nanti itu seperti apa. Dia tetap lanjut menulis.

Sayang, pada akhirnya dia tak bisa menyelesaikan. Tak perlu menjelaskan berbagai kemungkinan faktor ini itu mengapa. Hasilnya adalah “tidak selesai”. Tapi aku salut. Setidaknya dia sudah berusaha mencoba semampunya.

Menulis cerita memang menguras pikiran, tenaga dan menyita waktu. Maaf. Namun, bukankah dia harus semakin mendekati impiannya, aku sedang berusaha membantu. Menyelinap dalam kehidupannya untuk menggelorakan yang sebenarnya hal tersebut adalah sesuatu yang luar biasa dari dirinya. Karena untuk ke langit harus bisa terbang. Untuk bisa terbang maka perlu perbanyak jam terbang percobaan. Dan sekarang, dia harus mempertanggungjawabkan impian dirinya sampai titik terang. 

Monday, December 30, 2013

Mengunyah investasi waktu

Khawatirmu khawatirku, beda. Mengapa harus isak sendu tersebut dipertunjukkan?

Sebuah sambungan komunikasi jarak jauh pagi hari. Bermuatan pertanyaan perihal penerbangan impian, keinginan, cita-cita dan harapan.

Suara deru mesin pemecah keramik beradu dengan suara ‘kita’. Perbincangan
Dua tahun, masih ditempat saja, katanya. Aku menyadari seperti aku berada di jalur yang salah. Tersesat. Ini perkara. Bukan berarti aku tidak kuat lagi menerima tekanan.

Aku sudah siap dengan segala resikonya dua tahun silam. Mencoba memerdekakan dirinya sendirinya. Dengan caranya sendiri dan pilihannya.

Aku porak-poranda dengan segala kegagalan-kegagalanku. “Habiskan jatah kegagalanmu sedini mungkin”, kata Dahlan Iskan di twitter. Dua tahun yang sudah berlalu walau demikian, tetap membuatku bernyawa dan hidupku berwarna. Belajarku, kegagalanku, dan dia.

Aku tak minta dan ingin menuntut hal apapun darimu. Aku hanya fokus melakukan yang terbaik. Beribu-ribu maaf, jika belum bisa membuat kalian bangga. ‘kalian’ yaitu dia, keluarga, kawan-kawanku.

Tak pernah hilang dari pikiranku, niat untuk meledakkan diriku. Mengumpulkan mantra dan berusaha. 

Siksaan diri berupa seputar pertanyaan yang itu-itu aja dan cemoohan, menjadi rutinitasku. Aku sedang sibuk menghadapi tamu agung tersebut yang riuh dan memuakkan.

Mencari jalan, melangkah, memaknai,  dan berlari menjemput matahari terbit. Penuh penderitaan, jenuh, lelah, tetapi aku menikmatinya. Tuhan selalu aku curhati, alam semesta membimbingku dengan segala momen dan kejutannya.


Manusia tak lepas dari masalah dan sekarang aku sedang mencurahkan pikiran. Menyalami terus kesempatan dan kepercayaan. Bila ada pertanyaan “sampai kapan?”, akan aku jawab “sebentar lagi”. Mungkin bukan sekarang, mungkin juga bukan besok, tapi nanti…. Percayalah! 

Monday, August 12, 2013

Pariwisata rencana

Harusnya sih gak kaget dan gak boleh kecewa, karena memang sudah diperkirakan demikian. Namun, ini cukup menyeret ke ruang otak. Menjadi beban pikiran.

Ada kalanya ketika rencana tersebut sudah dipastikan kita pegang hasilnya, jika jaraknya sudah terlampau jauh. Mencoba menghitung dengan skala sedang, bahwa hasilnya ada ditangan kita. 

Hasil terkadang membuat kita menjadi mengundurkan diri terhadap sesuatu hal, bahkan fase proses pun juga menyeret demikian. Terjun bebas sebebas-bebasnya. 

Kadangkala, sesuatu yang tidak kita taruh harapan besar malah membawa kejutan yang membanggakan. 

Perjalanan yang sebelumnya "mungkin" belum seberapa, atau mungkin belum terasah banget. Secara sadar, memang masih ada rasa was-was yang menghantui, dan hari inilah hasil tersebut berubah posisi peringkat. Gila!

Saya merasaka betul bagaimana kecewanya. Bagaimana ketidaknyamanan ini bisa tidur nyenyak dipikiran saya. Gemetaran, deg-degan. Ini menjadi tantangan besar yang harus dilangkahkan kembali selagi masih ada sisa hari target.

Apakah saya akan gagal dalam rencana yang sudah saya terbitkan melalui sebuah janji? let`s see...

Saturday, June 22, 2013

Bedah Buku Susilo boncell jombloyono

Acara bedah buku yang diadakan di Houten Hand pada tanggal 7 Juni, mengagendakan Rizky sebagai penulis untuk mengupas bukunya yang berjudul Susilo boncell jombloyono. Buku ini bercerita tentang keabsurd-an rizki alias boncell yang sebagian besar adalah kisah nyata yang dialaminya. “Yang jadi juara itu gak harus punya, pasangan, tapi jomblo pun bisa juara, yaitu membanggakan dirinya sendiri, ucapnya”, bercerita tentang keinginannya menjadi presiden jomblo Indonesia, membuat negara sendiri, partai sendiri, membuat peraturan sendiri. Judul buku tersebut merupakan judul yang ada di dalam bab buku. Tidak heran jika bukunya tersebut berjudul demikian, kenyataannya sang penulis pun belum pernah berpacaran. Ada 16 bab dan 1 komik di dalam bukunya. “Kenikmatan Pagi” merupakan salah satu cerita dalam bukunya, yang menceritakan sahabatnya si Toto, ada apa dengan Toto? Bagi yang penasaran dengan Toto nya si Rizki dan cerita absurdnya yang ingin menjadi presiden jomblo, kalian bisa mendapatkan buku tersebut di toko buku seluruh jawa. Buku yang diterbitkan oleh penerbit buku Litera ini, dicetak sebanyak 1000 eksemplar dengan harga 30 ribu rupiah. 


Sunday, June 16, 2013

MORFEM: Hey Makan Tuh Gitar di Malang

Hey Freeen! (meminjam sapaan khas Jimi), band indie MORFEM baru-baru ini telah mengunjungi kota Malang dalam rangkaian mini tour album kedua mereka yaitu Hey Makan Tuh Gitar di 5 kota pulau Jawa. Kota Malang menjadi kota kedua yang dikunjungi dan kunjungan MORFEM untuk yang kali kedua. Bertempat di Levels Brewhouse pada 9 Juni,  MORFEM menyapa dan menghibur penikmat musik rock dan fansnya. Dalam tour album kedua mereka, MORFEM juga melibatkan dua band Malang yaitu KOBRA dan Begundal Lowokwaru yang juga mengisi acara sekaligus berkolaborasi dengan mereka.

Band yang beraliran fuzzrock ini, merilis album ‘Hey Makan Tuh Gitar!’ pada 24 Maret 2013 melalui label independen MRFM dan Demajors. Formasi band MORFEM di album kedua ini terdapat pergantian personil pada bassist yang tadinya Bramasta, sekarang diisi oleh Yanu. Vokalis Jimi Multhazam, Gitaris Pandu Fuzztoni, Bassist Yanu Fuadi, dan Drummer Freddie A. Wannerin.
sumber: google pic
Nama album Hey Makan Tuh Gitar tersebut diambil dari penggalan lirik di lagu Seka Ingusmu. Dengan 11 lagu di album kedua, diantaranya; 180 derajat, Hey tuan botimen, Senjakala cerita, Legenda berbalut ngeri, Era gelap sirna, Hujan Kunjungi kami, Bocah cadel lampu merah, Berlagak gila, Seka ingusmu, Cerdas dan taktis, dan Jalan darat. Untuk tema album kedua ini tidak begitu berbeda dengan album pertama yaitu lirik-liriknya bercerita fenomena keseharian dan kritik sosial dari sudut pandang yang unik oleh Jimi Multhazam. Jimi mengisahkan, bahwa ini adalah tahunnya MORFEM nih, walaupun sempat ganti personil, tapi chemistry nya lebih mengena, ditambah dengan permainan gitar dari Pandu yang kuat, distorsi gitar yang kencang, eksplor sound banget dan sesuai dengan melodinya yang cepat. Namun, nuansa noise rocknya terasa begitu ramah ditelinga.

Lagu ‘Pilih sidang atau berdamai’ (album pertama), menjadi lagu pembuka. Disusul dengan ‘Hey tuan botimen’, ‘Berlagak gila’, ‘180 derajat’, dan nampaknya belum bisa membuat suasana memanas, walaupun penonton juga ikut bernyanyi bersama dekat panggung. Dengan membawakan lagu yang cukup familiar didengar, Jimi featuring dengan Ovi (KOBRA) dengan lagu ‘Sugali’ yang sudah diaransemen, atmosfir yang dimaksud kurang memanas kini mulai naik, dan puncaknya ditandai dengan penonton yang moshing dan bernyanyi ketika MORFEM membawakan ‘Blitzkriegpop’ The Ramones. Sylvia Saartje, lady rocker legendaris Indonesia, juga hadir di acara tersebut.

Setelah berhasil membuat suasana memanas diselingi juga dengan celotehan Jimi yang mengundang tawa. Kini suasana dibawa kalem dengan lagu “Tidur dimanapun, bermimpi kapanpun” secara akustik oleh Chipeng (Begundal Lowokwaru) feat Jimi. Kombinasi setlist lagu-lagu di album pertama, album kedua, dan single lagu yang masuk dalam kompilasi frekuensi perangkap tikus, membuat perform yang ciamik dan memuaskan penonton menjelang akhir acara. MORFEM menutup penampilan mereka dengan lagu ‘Gadis Suku Pedalaman’. Disini letak menariknya, ketika membawakan lagu tersebut bagian reff Jimi mengubahnya menjadi “Ku spekulasi kau bercinta, dengan gadis dari kota Malang” sontak membuat penonton yang memenuhi venue ikut bernyanyi dan meninggalkan keseruan perpisahan di akhir perform MORFEM yang begitu berkesan. Senada dengan slogan mereka, yaitu “MORFEM datang semua senang”. Saya pulang dengan hati gembira dan senang telah memiliki CD Album MORFEM  ‘Hey Makan Tuh Gitar!’ lengkap dengan tanda tangan dari FAW dan Jimi. Saiiik freeeen! 


Koleksi pribadi rilisan fisik 2 CD album MORFEM "Indonesia" & "Hey Makan Tuh Gitar!"

Sunday, May 12, 2013

Hilang



16 September 2011

Aku menyukai sekali foto ini. Sekaligus tampak wajah tersenyum aku dan Melisa (pacarku) bersesi foto di samping bangunan DIANNS & jalan tersebut. Bukan bermaksud untuk mengumbar kemesraan tetapi hanya foto ini yang aku miliki dengan  bangunan DIANNS Tbk dan foto ini yang paling wow buatku.  Aku suka dengan foto ini, rasanya seperti ada kenikmatan tersendiri yang diberikan dari foto itu, dan membuat aku tersenyum sendirian. Dan inilah fungsi foto yang mengingatkan kembali jejak memori kenangan. Yap, foto itu mengabadikan, proses mengingat itu juga untuk keabadian, mendokumentasikan segala hal penting dalam hidupku yang menurutku penting dan sekiranya entah suatu objek yang ditangkap  mata kameraku tersebut akan hilang. Dan ternyata benar, ada beberapa objek di dalam foto tersebut yang sekarang ini sudah tidak ada lagi. Objek pertama adalah helm berwarna putih, yang kedua adalah bangunan fisik bertuliskan DIANNS Tbk.

Helm retro cebok berwarna putih tersebut merupakan pemberian dari sahabatku, namanya Hero Ristyano. Anaknya baik sekali, humoris, jiwa petualang, yang jelas dia orang yang sederhana tapi sangat dermawan. Aku menyayangkan sekali helm retro putih tersebut hilang. Saat itu, temanku meminjam helm retro putih tersebut karena dia naksir dengan helmnya, "unyuuu", katanya. Aku pun meminjamkannya, dengan senang hati. Toh, aku masih punya helm lagi yang biasa kupakai sehari-hari yang bersticker Indonesia (tampak di foto). Namun, setelah berselang hampir tiga minggu dipinjam, dan aku ingin menggunakannya kembali, aku terkejut ketika mendapati jawaban via sms. "Git, maaf helmnya hilang, aku ganti ya berapa harganya", ucapnya. "Hilang ya? aduh kok bisa? teledor." batinku. Aku mengabaikan pertanyaanku tersebut dan tak ingin dijawab juga oleh temanku yang meminjamnya. Ku balas pesan tersebut, "Oh yaudah engga apa-apa, gausah diganti juga gapapa kok, ikhlas." Benda pemberian itu walaupun sederhana tapi  membuat kita mengistimewakannya. Merawat jaga, menjaga pakai, benda tersebut dengan baik. "Beneran nih? makasih ya git, semoga tuhan membalas kebaikanmu," balas temanku. 

Untuk yang kedua, bangunan fisik tersebut meninggalkan banyak kisah. Sangat banyak. Bagaimana tidak, dan ini berbeda dengan helm retro putih yang hanya menemaniku beberapa bulan saja lalu hilang. Bangunan DIANNS Tbk entah tepatnya kapan, yang saya tahu DIANNS itu berdiri pada tahun 1981. Cukup lama bukan? memang.  Rumah  yang  membesarkan/mendamping para penghuninya, manusia yang pernah singgah tetap disana. Kalian pasti punya yang namanya rumah kenangan? dimana rumah tersebut merupakan tempat yang menjadi saksi tumbuhnya kalian menjadi dewasa. Punya kakak, punya adik, ibu, ayah persis seperti sebuah keluarga. Masing-masing memiliki perannya, yang sebagai kakak ya membimbing adik-adiknya, yang udah orangtua ya mengawasi dan mendampingi. Bangunan tersebut adalah rumah warisan turun menurun. Warisan segala barang-barang rongsoknya, warisan karya di setiap generasinya, warisan prestasi yang selalu membuat persaingan untuk menjadi generasi yang terbaik di zamannya, dan warisan cerita menarik/heroik/menginspirasi lainnya. Banyak warisan. Tetapi, warisan yang berharga dan harus dilestarikan adalah soal prinsip yaitu Radikal, oRA weDI diceKAL. Itu warisan secara kontekstual.

Kini, bangunan tersebut telah roboh. Hilang. Disapu oleh kebijakan. Sedih tapi tak berlarut. Pindah rumah. Memulainya dari halaman yang baru lagi. Mengarsipkan segala warisan tetek bengek yang pernah ada rumah sebelumnya, kultur, data para penghuni dan atmosfir disana jangan sampai ada yang hilang. Suatu saat, mungkin kita bisa bernostalgia jamaah bersama dengan para penghuni yang dulu hingga sekarang.