Saturday, June 22, 2013

Bedah Buku Susilo boncell jombloyono

Acara bedah buku yang diadakan di Houten Hand pada tanggal 7 Juni, mengagendakan Rizky sebagai penulis untuk mengupas bukunya yang berjudul Susilo boncell jombloyono. Buku ini bercerita tentang keabsurd-an rizki alias boncell yang sebagian besar adalah kisah nyata yang dialaminya. “Yang jadi juara itu gak harus punya, pasangan, tapi jomblo pun bisa juara, yaitu membanggakan dirinya sendiri, ucapnya”, bercerita tentang keinginannya menjadi presiden jomblo Indonesia, membuat negara sendiri, partai sendiri, membuat peraturan sendiri. Judul buku tersebut merupakan judul yang ada di dalam bab buku. Tidak heran jika bukunya tersebut berjudul demikian, kenyataannya sang penulis pun belum pernah berpacaran. Ada 16 bab dan 1 komik di dalam bukunya. “Kenikmatan Pagi” merupakan salah satu cerita dalam bukunya, yang menceritakan sahabatnya si Toto, ada apa dengan Toto? Bagi yang penasaran dengan Toto nya si Rizki dan cerita absurdnya yang ingin menjadi presiden jomblo, kalian bisa mendapatkan buku tersebut di toko buku seluruh jawa. Buku yang diterbitkan oleh penerbit buku Litera ini, dicetak sebanyak 1000 eksemplar dengan harga 30 ribu rupiah. 


Sunday, June 16, 2013

MORFEM: Hey Makan Tuh Gitar di Malang

Hey Freeen! (meminjam sapaan khas Jimi), band indie MORFEM baru-baru ini telah mengunjungi kota Malang dalam rangkaian mini tour album kedua mereka yaitu Hey Makan Tuh Gitar di 5 kota pulau Jawa. Kota Malang menjadi kota kedua yang dikunjungi dan kunjungan MORFEM untuk yang kali kedua. Bertempat di Levels Brewhouse pada 9 Juni,  MORFEM menyapa dan menghibur penikmat musik rock dan fansnya. Dalam tour album kedua mereka, MORFEM juga melibatkan dua band Malang yaitu KOBRA dan Begundal Lowokwaru yang juga mengisi acara sekaligus berkolaborasi dengan mereka.

Band yang beraliran fuzzrock ini, merilis album ‘Hey Makan Tuh Gitar!’ pada 24 Maret 2013 melalui label independen MRFM dan Demajors. Formasi band MORFEM di album kedua ini terdapat pergantian personil pada bassist yang tadinya Bramasta, sekarang diisi oleh Yanu. Vokalis Jimi Multhazam, Gitaris Pandu Fuzztoni, Bassist Yanu Fuadi, dan Drummer Freddie A. Wannerin.
sumber: google pic
Nama album Hey Makan Tuh Gitar tersebut diambil dari penggalan lirik di lagu Seka Ingusmu. Dengan 11 lagu di album kedua, diantaranya; 180 derajat, Hey tuan botimen, Senjakala cerita, Legenda berbalut ngeri, Era gelap sirna, Hujan Kunjungi kami, Bocah cadel lampu merah, Berlagak gila, Seka ingusmu, Cerdas dan taktis, dan Jalan darat. Untuk tema album kedua ini tidak begitu berbeda dengan album pertama yaitu lirik-liriknya bercerita fenomena keseharian dan kritik sosial dari sudut pandang yang unik oleh Jimi Multhazam. Jimi mengisahkan, bahwa ini adalah tahunnya MORFEM nih, walaupun sempat ganti personil, tapi chemistry nya lebih mengena, ditambah dengan permainan gitar dari Pandu yang kuat, distorsi gitar yang kencang, eksplor sound banget dan sesuai dengan melodinya yang cepat. Namun, nuansa noise rocknya terasa begitu ramah ditelinga.

Lagu ‘Pilih sidang atau berdamai’ (album pertama), menjadi lagu pembuka. Disusul dengan ‘Hey tuan botimen’, ‘Berlagak gila’, ‘180 derajat’, dan nampaknya belum bisa membuat suasana memanas, walaupun penonton juga ikut bernyanyi bersama dekat panggung. Dengan membawakan lagu yang cukup familiar didengar, Jimi featuring dengan Ovi (KOBRA) dengan lagu ‘Sugali’ yang sudah diaransemen, atmosfir yang dimaksud kurang memanas kini mulai naik, dan puncaknya ditandai dengan penonton yang moshing dan bernyanyi ketika MORFEM membawakan ‘Blitzkriegpop’ The Ramones. Sylvia Saartje, lady rocker legendaris Indonesia, juga hadir di acara tersebut.

Setelah berhasil membuat suasana memanas diselingi juga dengan celotehan Jimi yang mengundang tawa. Kini suasana dibawa kalem dengan lagu “Tidur dimanapun, bermimpi kapanpun” secara akustik oleh Chipeng (Begundal Lowokwaru) feat Jimi. Kombinasi setlist lagu-lagu di album pertama, album kedua, dan single lagu yang masuk dalam kompilasi frekuensi perangkap tikus, membuat perform yang ciamik dan memuaskan penonton menjelang akhir acara. MORFEM menutup penampilan mereka dengan lagu ‘Gadis Suku Pedalaman’. Disini letak menariknya, ketika membawakan lagu tersebut bagian reff Jimi mengubahnya menjadi “Ku spekulasi kau bercinta, dengan gadis dari kota Malang” sontak membuat penonton yang memenuhi venue ikut bernyanyi dan meninggalkan keseruan perpisahan di akhir perform MORFEM yang begitu berkesan. Senada dengan slogan mereka, yaitu “MORFEM datang semua senang”. Saya pulang dengan hati gembira dan senang telah memiliki CD Album MORFEM  ‘Hey Makan Tuh Gitar!’ lengkap dengan tanda tangan dari FAW dan Jimi. Saiiik freeeen! 


Koleksi pribadi rilisan fisik 2 CD album MORFEM "Indonesia" & "Hey Makan Tuh Gitar!"

Sunday, May 12, 2013

Hilang



16 September 2011

Aku menyukai sekali foto ini. Sekaligus tampak wajah tersenyum aku dan Melisa (pacarku) bersesi foto di samping bangunan DIANNS & jalan tersebut. Bukan bermaksud untuk mengumbar kemesraan tetapi hanya foto ini yang aku miliki dengan  bangunan DIANNS Tbk dan foto ini yang paling wow buatku.  Aku suka dengan foto ini, rasanya seperti ada kenikmatan tersendiri yang diberikan dari foto itu, dan membuat aku tersenyum sendirian. Dan inilah fungsi foto yang mengingatkan kembali jejak memori kenangan. Yap, foto itu mengabadikan, proses mengingat itu juga untuk keabadian, mendokumentasikan segala hal penting dalam hidupku yang menurutku penting dan sekiranya entah suatu objek yang ditangkap  mata kameraku tersebut akan hilang. Dan ternyata benar, ada beberapa objek di dalam foto tersebut yang sekarang ini sudah tidak ada lagi. Objek pertama adalah helm berwarna putih, yang kedua adalah bangunan fisik bertuliskan DIANNS Tbk.

Helm retro cebok berwarna putih tersebut merupakan pemberian dari sahabatku, namanya Hero Ristyano. Anaknya baik sekali, humoris, jiwa petualang, yang jelas dia orang yang sederhana tapi sangat dermawan. Aku menyayangkan sekali helm retro putih tersebut hilang. Saat itu, temanku meminjam helm retro putih tersebut karena dia naksir dengan helmnya, "unyuuu", katanya. Aku pun meminjamkannya, dengan senang hati. Toh, aku masih punya helm lagi yang biasa kupakai sehari-hari yang bersticker Indonesia (tampak di foto). Namun, setelah berselang hampir tiga minggu dipinjam, dan aku ingin menggunakannya kembali, aku terkejut ketika mendapati jawaban via sms. "Git, maaf helmnya hilang, aku ganti ya berapa harganya", ucapnya. "Hilang ya? aduh kok bisa? teledor." batinku. Aku mengabaikan pertanyaanku tersebut dan tak ingin dijawab juga oleh temanku yang meminjamnya. Ku balas pesan tersebut, "Oh yaudah engga apa-apa, gausah diganti juga gapapa kok, ikhlas." Benda pemberian itu walaupun sederhana tapi  membuat kita mengistimewakannya. Merawat jaga, menjaga pakai, benda tersebut dengan baik. "Beneran nih? makasih ya git, semoga tuhan membalas kebaikanmu," balas temanku. 

Untuk yang kedua, bangunan fisik tersebut meninggalkan banyak kisah. Sangat banyak. Bagaimana tidak, dan ini berbeda dengan helm retro putih yang hanya menemaniku beberapa bulan saja lalu hilang. Bangunan DIANNS Tbk entah tepatnya kapan, yang saya tahu DIANNS itu berdiri pada tahun 1981. Cukup lama bukan? memang.  Rumah  yang  membesarkan/mendamping para penghuninya, manusia yang pernah singgah tetap disana. Kalian pasti punya yang namanya rumah kenangan? dimana rumah tersebut merupakan tempat yang menjadi saksi tumbuhnya kalian menjadi dewasa. Punya kakak, punya adik, ibu, ayah persis seperti sebuah keluarga. Masing-masing memiliki perannya, yang sebagai kakak ya membimbing adik-adiknya, yang udah orangtua ya mengawasi dan mendampingi. Bangunan tersebut adalah rumah warisan turun menurun. Warisan segala barang-barang rongsoknya, warisan karya di setiap generasinya, warisan prestasi yang selalu membuat persaingan untuk menjadi generasi yang terbaik di zamannya, dan warisan cerita menarik/heroik/menginspirasi lainnya. Banyak warisan. Tetapi, warisan yang berharga dan harus dilestarikan adalah soal prinsip yaitu Radikal, oRA weDI diceKAL. Itu warisan secara kontekstual.

Kini, bangunan tersebut telah roboh. Hilang. Disapu oleh kebijakan. Sedih tapi tak berlarut. Pindah rumah. Memulainya dari halaman yang baru lagi. Mengarsipkan segala warisan tetek bengek yang pernah ada rumah sebelumnya, kultur, data para penghuni dan atmosfir disana jangan sampai ada yang hilang. Suatu saat, mungkin kita bisa bernostalgia jamaah bersama dengan para penghuni yang dulu hingga sekarang.



Friday, May 10, 2013

Menangkap rasa


Ditulis pada 8 November 2011

Siang hari. Di lorong kelas kampus, menunggu jam mata kuliah Kepemimpinan.

Aniono dan Bakrizal memang hebat ya.  Jarang lho orang yang bisa seperti mereka. Puji Fahri dengan tulus.

Hebat apanya,ri? Kenapa kau memuji bangga seperti itu? Sambil berpikir mengapa.

Ya,mereka berdua mendapat gelar bintang jasa Adipradana karena telah memberikan sumbangsih yang sangat berguna bagi negara, terang fahri. Dan mereka pantas.

Kembali bertanya-tanya dalam hati.

Kok saya tidak merasakan apa-apa terhadap atas peran mereka? Mengenal nya saja pun tidak,apalagi merasakan jasa mereka, jelas mutia. Sambil menggeleng-gelengkan kepala. Heran.

Dalam pengalaman Indonesia yang saat ini sedang terpuruk, tidakkah harusnya mereka berpikir dan instropeksi. Semudah itukah mendapatkan gelar bintang jasa tersebut. Prestasi apa yang sudah diberikan bagi negeri ini?

Tertarik dari rasa ingin tahuku, aku bertanya pada kawan kuliahku si narno. Dan terjadilah diskusi singkat untuk menjemput jam kuliah ..

Aku sudah mengemukakan hal ini pada fahri. Tapi fahri tetap memuji sang penerima bintang jasa.
Mutia memulai pembicaraan diskusi.

Hey, ini seperti barang yang diobral secara murah. Apakah karena memang sebentar lagi menjelang lebaran sehingga semuanya serba diobral murah? Ataukah ini dampak dari iklan-iklan operator yang bersaing menawarkan bonus ini itu secara cuma-cuma?

Aku cemas,sangat cemas sekali terhadap apresiasi pada orang yang dinilai berjasa kepada negara. Jangankan untuk tokoh yang akan disematkan bintang jasa nanti pada Hari penting Nasional. Pahlawan yang sudah jelas berjasa pada Negara ini pun sudah agak kita abaikan (lupakan) jasa-jasa nya. Ditambah lagi,dengan pemberian penghargaan bintang jasa yang terkesan seperti tiket kereta kelas ekonomi.

Saya juga heran !, narno menimpali ucapan mutia. Padahal negeri ini sangat membutuhkan sosok pemimpin yang menunjang pembangunan bangsa dan negara.

Apa yang diperlihatkan oleh bakriezal pada negeri ini yang dimana sampai saat ini kasus lapindo belum juga terselesaikan tanggung jawabnya. Keadilan yang seharusnya didapat rugi atas tanah mereka, kini hak tersebut  terendam lumpur juga. Karena bagi saya keadilan itu lebih diartikan sebagai prestasi tertinggi. Yang merisaukan disini adalah kenapa tokoh seperti bakriezal layak mendapatkan penghargaan bintang jasa?

Tidak semua rakyat, seperti kami menghendaki. Dimana demokrasi yang seutuhnya? Sudah ada uji publik nya belum atau ini lagi-lagi permainan politik? jelas narno dengan nada berapi-api.

Kami tidak keberatan jika mereka mendapatkannya, tapi tolong kewajiban harus diutamakan lebih dahulu. Satu lagi, coba lebih selektif dalam menentukan.

Mutia masuk pembicaraan. Benar,no! partisipasi rakyat dalam sebuah intervensi itu kan harus selalu ada ya?,tanya mutia.

Iya, benar mut. Partisipasi rakyat menentukan mutu demokrasi. Mungkin bisa dilakukan uji publik terlebih dahulu.

Kembali pada hal sikap politik atau bukan, membereskan basis kekuatan citra partai nya atau apalah. Yang jelas rakyat kelas bawah selalu berada pada pusaran penderitaan. Kelas atas yakni elite politik selalu berjuang demi kemakmuran diri nya sendiri maupun golongan nya.

Demikian pun, persoalan penghargaan bintang jasa ini muncul akibat representasi yang dinilai seperti pembagian jatah prestasi. Sepintas memang kami tidak dirugikan sama sekali. Tapi sejarah akan mencatat itu. Ini menjadi kebutuhan nyata dan mendesak ,untuk keperluan negara ataukah ini menyangkut urusan politik semata yang semakin hari tak dapat dihindari urgensinya?

Dari kejauhan tampak seorang pria yang berkumis tebal dan berkacamata hitam,bercelana jeans, serta rambut bela tengah.  Dan obrolan pun berakhir.

Hey..Mut,No. Pak Fadil sudah datang tuh. Ayo kita masuk kelas.

Tuesday, April 30, 2013

Thursday, April 25, 2013

Tuntaskan

Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya baru terpilih yaitu Rizky Kurniawan sempat melakukan tindakan yang heroik dan berani sekaligus mengingatkan kembali memori kita semua untuk melawan lupa pada kasus lumpur lapindo. Saat itu ketika Aburizal Bakrie datang ke Universitas Brawijaya untuk mengisi kuliah tamu kewirausahaan pada hari Jumat Pekan lalu. Aburizal mendapat kado istimewa dari Presiden mahasiswa UB sebuah lumpur pada sesi acara kuliah tamu. Sebagai simbolis, lumpur tersebut kembali mengingatkan pada ketum partai berlambang pohon beringin ini untuk segera menuntaskan permasalahan kasusnya yang sudah menginjak 7 tahun belum selesai tersebut. Selama 7 tahun pula semburan lumpur lapindo tak kunjung berhenti. Tragedi lumpur lapindo melahirkan dampak negatif yang hebat. Menenggelamkan harapan hidup orang banyak, menenggelamkan sebagian perekonomian, menenggelamkan sosial budaya yang tadinya tumbuh sehat, menenggelamkan infrastruktur pendidikan dan menenggelamkan keadilan hukum Indonesia juga atas perbuatannya. Gila!

Ribuan penduduk sipil diungsikan, puluhan pabrik terpaksa harus berhenti beroperasi, otomatis lahir ribuan  pengangguran, areal pertanian berhektar-hektar ludes, dan kerusakan lingkungan akibat dari bencana tersebut yang dapat membahayakan kesehatan manusia. Sudah 7 tahun semburan lumpur lapindo memberikan penderitaan bagi rakyat sipil dan negara. Pada kenyataannya, negara yang harus memikul bencana lumpur lapindo tersebut. Penanganan korban dan penuntasan ganti rugi kepada rakyat sipil yang menjadi korban semburan lumpur pun juga tak kunjung selesai selama 7 tahun ini. Menurut Kerusakan yang terjadi menjadi social cost akibat pengeboran minyak yang gagal tersebut, ini menjadi tanggung jawab jangka panjang oleh negara. Peristiwa ini juga menyita perhatian secara nasional bahkan luar negeri. Bersyukur, kita masih punya aktivis, beberapa elemen LSM yang terus berjuang dengan gigih untuk memperjuangkan keadilan demi kepentingan hidup orang banyak sama juga seperti aksi sederhana dari Presiden mahasiswa UB yang mengingatkan secara simbolis tersebut. Sekedar mengingatkan saja sudah cukup, lebih dari itu malah lebih baik. Cukup mencerminkan masih punya sisi etis manusia, sebagai makhluk yang mempunyai hati nurani sekaligus sebagai pemimpin dan mahasiswa yang punya label agent of change. 

Hukum di Indonesia, kalau kita perhatikan selalu berhadapan dengan dua kendala utama, yaitu kekuasaan dan keadilan. Kepastian hukum bisa diatur oleh orang yang memiliki kekuasaan. Prihatin, pakai sinis juga sih. Tapi itulah kenyataannya. Bahwa hukum telah dipelintir oleh kekuasaan politik. Engga heran juga. Sehingga, peristiwa lumpur lapindo masuk dalam kategori bencana alam. Perusahan besar selalu dekat dekat dengan kekuasaan dan negara, apalagi perusahaan perminyakan. Padahal secara ilmiah, gagalnya eksplorasi minyak&gas tersebut bukan akibat dari bencana alam (gempa,red), hal tersebut ditentang oleh mayoritas pakar geologi dan pertambangan internasional. Seharusnya, pihak PT.Lapindo lah yang harus bertanggung jawab penuh dalam peristiwa tersebut. Menjengkelkan rasanya, negara yang harus menanggung triliunan rupiah akibat ulah kelalaian korporasi dan kepastian hukum yang belum adil. Everday politics, uh! Everyday politics terus pemberitaannya. Pemberitaan perkelahian dan konflik internal, ribut-ribut parpol, DPR,dll. Oke, mungkin itu diskusi sampai debat hebat dan kerja mereka ditampilkan untuk rakyat. Tapi,  kerja dan perilaku politik mereka yang gaduh membuat bingung masyarakat. Jangan heran, kalau pemberitaan pada daerah seperti Indonesia bagian timur seperti Papua kurang, kok kasihan ya di daerah timur sana, tak hanya timur, tapi hampir semuanya. Apalagi kisah terbaru tentang Tasripin, yang juga tampil di layar tv, cukup trending topic kok, Tasripin ialah seorang bocah yang harus menghidupi ketiga adik-adiknya tanpa orang tua. Mana tuh si kuning golongan karya? orang-orang yang berkarya untuk negeri? Oh mungkin karyanya adalah ‘janji’ doang. Negeri ini banyak tayangan pelestarian kemiskinan dan ketidakadilan ih. 

Masih ingat Hari Suwandi salah satu korban lumpur lapindo? Ya, dia salah satu korban lumpur lapindo yang melakukan aksi heroiknya dengan berjalan kaki seorang diri dari Porong menuju Jakarta.Namun, sayang hasilnya adalah ia berkhianat saat live wawancara di media yaitu Tv One milik grup Bakrie. Negeri ini begitu mengkhawatirkan ya. Uang menjadi raja, manusia dikuasai benda itu. Hanya demi uang yang dijanjikan 5 juta perbulan, Hari Suwandi  abaikan amanah dan harapan mewakili dari banyaknya korban lumpur lapindo. Sama aja, dia cuma janji, gak jauh beda kan sama orang-orang yang itu tanda kutip. Ini potret nyata yang bukan terjadi di orang-orang senayan atau pejabat lainnya. Tapi manusia yang mencoba untuk menjadi pahlawan, tapi jegleg di tengah jalan. Ada apa dengan hati nurani? Konslet? Mungkin iya. Niat dan aksi aja juga gak cukup. Loh terus aksi jalan kaki yang sudah dilakukannya? Bisa saja narsis, bisa saja manis dimulut dan keberanian fisik, tapi secara moral, nihil. Permainan kotor dibalik layar dari media. Semua bisa dihalalkan dengan segala cara demi kepentingan medianya. Hari Suwandi pun demikian, serakah. Membuat pernyataan yang mengecewakan harapan banyak orang, korban lumpur lapindo. Lucu! Individualisme! Makanya gak heran sekarang klo agak skeptis dengan dunia aktivis, skeptis juga sama dunia parlemen, dengan mudah banyak yang menjadi oportunis. 

Pahit memang harus menerima kenyataan ini. Sebagai korban lumpur lapindo, mereka tak punya kekuatan besar. Lalu apa yang bisa mereka perbuat? Tidak ada. Mereka cuma punya cerita dan harapan yang dimana beberapa elemen masyarakat lainnya bisa tergerak untuk membantu menyelesaikan permasalahan sosial dan lingkungan tersebut.  Cerita hanya bisa menjadi kisah yang usang, bila tak segera diselesaikan. Bagaimana mau mencapai happy ending?

Dalam akun twitternya presiden kita mengeluarkan pernyataan “Kita harus mendorong investasi dan bisnis di Indonesia,tapi rakyat harus menjadi tuan rumah di negeri nya sendiri” (Acara Thomson Reuters Newsmaker di Singapura). Nyatanya, emang rakyat memang menjadi tuan rumah di negerinya sendiri, tapi tuan rumah yang pura-pura. Terus yang tuan rumah siap? Siapalagi kalau bukan si penerima tamu itu, ya wakil tuan rumah itu. Mungkin, yang penting everyday politics, everyday proyek, everyday rapat, everyday pembangunan, everyday korupsi, everyday, tapi rakyat punya every thursday yaitu acara kamisan di depan istana negara jakarta sebagai bentuk propaganda kampanye penegakan HAM.

Persoalan lumpur Lapindo tidak hanya sebatas ganti rugi aset warga, habis itu sudah, habis itu selesai. Banyak persoalan yang harus diperhatikan, masalah kerusakan lingkungan, air bersih disana, kesehatan, pendidikan untuk anak-anak, dan tatanan sosial masyarakat. Hal tersebut harus dikembalikan lagi, itu aset mereka dan hak mereka.  Apakah mungkin keadilan,hak mereka bisa didapat? Mungkin saja bisa, seungguhnya yang dibutuhkan adalah nasionalisme solidaritas sosial - kepedulian dan rasa tanggung jawab antara warga bangsa. Segera ambil peran kawan!

Sunday, April 14, 2013

How to Write Fiction by Ernest Hemingway

I found  this article from http://www.stumbleupon.com I think Hemingway's writing style is so useful, I would like to spread it on my blog. Article writer is Mike Springer. Happy reading, guys. Enjoy!

Seven Tips From Ernest Hemingway

Before he was a big game hunter, before he was a deep-sea fisherman, Ernest Hemingway was a craftsman who would rise very early in the morning and write. His best stories are masterpieces of the modern era, and his prose style is one of the most influential of the 20th century.


Hemingway never wrote a treatise on the art of writing fiction.  He did, however, leave behind a great many passages in letters, articles and books with opinions and advice on writing. Some of the best of those were assembled in 1984 by Larry W. Phillips into a book, Ernest Hemingway on Writing. We’ve selected seven of our favorite quotations from the book and placed them, along with our own commentary, on this page. We hope you will all–writers and readers alike–find them fascinating.

1: To get started, write one true sentence.

Hemingway had a simple trick for overcoming writer’s block. In a memorable passage in A Moveable Feast, he writes:

Sometimes when I was starting a new story and I could not get it going, I would sit in front of the fire and squeeze the peel of the little oranges into the edge of the flame and watch the sputter of blue that they made. I would stand and look out over the roofs of Paris and think, “Do not worry. You have always written before and you will write now. All you have to do is write one true sentence. Write the truest sentence that you know.” So finally I would write one true sentence, and then go on from there. It was easy then because there was always one true sentence that I knew or had seen or had heard someone say. If I started to write elaborately, or like someone introducing or presenting something, I found that I could cut that scrollwork or ornament out and throw it away and start with the first true simple declarative sentence I had written.

2: Always stop for the day while you still know what will happen next.

There is a difference between stopping and foundering. To make steady progress, having a daily word-count quota was far less important to Hemingway than making sure he never emptied the well of his imagination. In an October 1935 article in Esquire ( “Monologue to the Maestro: A High Seas Letter”) Hemingway offers this advice to a young writer:

The best way is always to stop when you are going good and when you know what will happen next. If you do that every day when you are writing a novel you will never be stuck. That is the most valuable thing I can tell you so try to remember it.

3: Never think about the story when you’re not working.

Building on his previous advice, Hemingway says never to think about a story you are working on before you begin again the next day. “That way your subconscious will work on it all the time,” he writes in theEsquire piece. “But if you think about it consciously or worry about it you will kill it and your brain will be tired before you start.” He goes into more detail in A Moveable Feast:

When I was writing, it was necessary for me to read after I had written. If you kept thinking about it, you would lose the thing you were writing before you could go on with it the next day. It was necessary to get exercise, to be tired in the body, and it was very good to make love with whom you loved. That was better than anything. But afterwards, when you were empty, it was necessary to read in order not to think or worry about your work until you could do it again. I had learned already never to empty the well of my writing, but always to stop when there was still something there in the deep part of the well, and let it refill at night from the springs that fed it.

4: When it’s time to work again, always start by reading what you’ve written so far.

T0 maintain continuity, Hemingway made a habit of reading over what he had already written before going further. In the 1935 Esquire article, he writes:

The best way is to read it all every day from the start, correcting as you go along, then go on from where you stopped the day before. When it gets so long that you can’t do this every day read back two or three chapters each day; then each week read it all from the start. That’s how you make it all of one piece.

5: Don’t describe an emotion–make it.

Close observation of life is critical to good writing, said Hemingway. The key is to not only watch and listen closely to external events, but to also notice any emotion stirred in you by the events and then trace back and identify precisely what it was that caused the emotion. If you can identify the concrete action or sensation that caused the emotion and present it accurately and fully rounded in your story, your readers should feel the same emotion. In Death in the Afternoon, Hemingway writes about his early struggle to master this:

I was trying to write then and I found the greatest difficulty, aside from knowing truly what you really felt, rather than what you were supposed to feel, and had been taught to feel, was to put down what really happened in action; what the actual things were which produced the emotion that you experienced. In writing for a newspaper you told what happened and, with one trick and another, you communicated the emotion aided by the element of timeliness which gives a certain emotion to any account of something that has happened on that day; but the real thing, the sequence of motion and fact which made the emotion and which would be as valid in a year or in ten years or, with luck and if you stated it purely enough, always, was beyond me and I was working very hard to get it.

6: Use a pencil.

Hemingway often used a typewriter when composing letters or magazine pieces, but for serious work he preferred a pencil. In the Esquire article (which shows signs of having been written on a typewriter) Hemingway says:

When you start to write you get all the kick and the reader gets none. So you might as well use a typewriter because it is that much easier and you enjoy it that much more. After you learn to write your whole object is to convey everything, every sensation, sight, feeling, place and emotion to the reader. To do this you have to work over what you write. If you write with a pencil you get three different sights at it to see if the reader is getting what you want him to. First when you read it over; then when it is typed you get another chance to improve it, and again in the proof. Writing it first in pencil gives you one-third more chance to improve it. That is .333 which is a damned good average for a hitter. It also keeps it fluid longer so you can better it easier.

7: Be Brief.

Hemingway was contemptuous of writers who, as he put it, “never learned how to say no to a typewriter.” In a 1945 letter to his editor, Maxwell Perkins, Hemingway writes:

It wasn’t by accident that the Gettysburg address was so short. The laws of prose writing are as immutable as those of flight, of mathematics, of physics.

Related content: