Wednesday, September 7, 2011

Sentimen Identitas Supporter Indonesia

Oiya,ada sesuatu yang mendorong gue untuk coba post nih.

Udah pada tahu berita peristiwa supporter bandung yang di serbu massa setelah pertandingan Indonesia lawan Bahrain. Dan gue tahu berita ini dari tweet #RembukMLG @infomalang. Beritanya dikeluarin oleh vivanews.com nah ini linknya http://metro.vivanews.com/news/read/245159-suporter-asal-bandung-diserbu-massa 

Dan lo tahu apa yang bikin heran? Seragam timnas yang dipakai para supporter,ber-lambang garuda itu masih menyimpan kebusukan yaitu sentimen.  Ouuucchhh..shit!

Entah apa karena Indonesia kalah, sehingga insiden tersebut bisa muncul supporternya jadi pada galau dan emosi. Atau sebaliknya jika Indonesia menang, tapi insiden itu tetap terjadi. Kalo iya itu gilaaaa!

Gue asal jakarta, dan kebetulan gue juga kuliah di malang, tapi gue bukan jakmania dan gue juga bukan aremania. 

Bonusnya, gue berada di daerah aman. Aremania sama Jakmania sodaraan. Lalu?

Ini salah satu cara penerimaan yang aman agar lo bisa diterima dengan baik di suatu daerah. Ketika lo mengambil suatu pilihan.

Nah ketika supporter bola asal Bandung mengambil suatu keputusan bahwa mereka akan menonton pertandingan Indonesia lawan Bahrain, sudah tentu kedatangan mereka ke jakarta adalah untuk mendukung timnas Indonesia.

Perhatikan! supporter asal Bandung rela datang hanya untuk merah putih. Dan tidak hanya dari Bandung aja, tapi dari daerah lain di jawa dan luar jawa juga.

Baiklah! Kita lupakan identitas daerah. Karena yang gue tahu, identitas ketika di stadion itu cuma kelihatan dari atribut yang lo pakai dan bawa.

Lo pake baju apa berarti lo dukung ini, dan sebaliknya.

Tapi insiden ini terjadi karena ‘bahasa’, sesuatu hal yang sepele dimana kalo gue pikir-pikir, bahasa bisa menjadi sesuatu yang sangat berbahaya. Sangat di intai dan tentu memasang kecurigaan pada rivalnya. Seiring berjalannya waktu, keterlibatan bahasa dalam berinteraksi ternyata bukan suatu kemajuan, malah gue nilai sebagai suatu kemandekan.

Kalo kita sadari, keragaman itu potensi. Jangan berpikiran sempit. Apa sakingnya orang yang jadi supporter itu fanatik lalu cara berpikirnya jadi cetek? Gak terdidik?

Pelajaran Kewarganegaraan yang lo dapat disekolah, mana impelementasinya?

Diajari toleransi kan? Gimana caranya lo menawarkan sikap yang menunjukkan kepercayaan dan kebersamaan.

Bukan kaya insiden supporter asal Bandung yang di amuk massa.

Gue yakin tiap klub-klub sepakbola gak ngajarin supporternya untuk tawuran. Indonesia juga gak ngajarin gitu, sebagaimana termaktub dalam sila ke-3 Pancasila. Lalu?

Faktor sejarah antar supporter emang musuhan, entah dari kapan deh gue gak tahu. hehe

J.S Mill mengenalkan tentang suatu kebebasan. Kebebesan berekspresi, yang dimana lo berkspresi tapi gak membahayakan orang lain/kelompok lain.  Tapi inget, lo ikut ini atau itu jangan fanatik banget.

Sayang yah, kaos timnas yang dipakai para supporter dimana ada lambang garuda dan simbol bendera tersebut  mengartikan sebagai simbol kedaulatan bentukan dari perbedaan-perbedaan. Ternyata, sentimen-sentimen yang masih terjadi antar supporter sepak bola di Indonesia itu mengalahkan suatu pengalaman tentang kesatuan sebuah negara Indonesia.

Semoga unek-unek gue ini gak menyinggung. Garuda didadaku!

10 comments:

rindriagattoo said...

sayang yaa mas gita ga ngerasain beban mental kuliah di kota yang tim sepakbolanya rival sama daerah asal :p
*curcol detected nih gue hha :D

rindriagattoo said...

agak aneh yaa ke-detect dari bahasa doang trus dipukulin, well, saya sih belum pernah ngerti gimana tawuran di stadion itu kayak gimana.. tapi harusnya sih, harusnya, kalo timnas lagi main gini, lupain bentar lah emosi2 yang kayak gitu, masak iya harusnya sama2 dukung timnas, harusnya ga ada kejadian gini, harusnya ada lah suatu kesadaran ketika timnas main, yaitu kita satu, seluruh Indonesia satu, eh malah tiba2 cuma karena ketauan si X ini Viking malah dikejar-kejar ampe dipukulin... Tapi kayaknya di pikiran beberapa supporter di GBK kemaren (atau mungkin di pertandingan timnas lainnya ya) masih aja ke-pattern di pikiran mereka, ngebuat sekat2 sendiri, "oh elo the jak gue viking, yang itu bonek" dan pikiran2 kayak gitu...
Semoga lain kali ga ada ya kayak gini, at least singkirkan dulu semua kepentingan kayak gitu ketika kita ngedukung satu nama yang sama se-indonesia, ketika dukung timnas garuda...
gitu aja sih menurut saya, makasih dan maaf kalo komennya ga berkenan nih :)

Anonymous said...

i thought so. Something is wrong with indonesian mindset. Ayolah...katanya olah raga itu salah alat pemersatu apalagi sepak bola yang paling populer di negara kita. Mendukung suatu tim bukan berarti kita harus membenci tim lain. Makanya selalu ada dipampang gede-gede JUNJUNGLAH SPOTIFITAS!! Masa harus diingetin terus kayak anak kecil. Grow up, please!! AKu percaya ya, selama sikap suppoter indonesia gak berubah, maka kita gak akan pernah jadi bagian dari piala dunia.

tulisanrusakblok G said...

all : jadi inget film nya Nelson Mandela. Yap, olahraga menjadi alat pemersatu. Ingat,kan persitiwa di sana terjadi perbedaan antara kulit putih dan kulit hitam. Tapi berkat kepiawaian,kecerdasan nelson mandela dalam mengambil keputusan. Konflik yang terjadi, sudah tutup buku sampai sekarang.

Anonymous said...

NABIL PARKUKUK..nama q..:D
mksh buat sdr gita atas pemberian kesempatannya..setelah membaca perlahan tulisan anda memang benar, dan tidak memiliki celah lagi untuk di bantah..kita ketahui orang-orang yang datang mebuang waktunya,membuang duitnya datang berbondong-bondong memenuhi stadion memiliki niatan yang sama dan harapan yang sma, untuk melihat tim garuda dapat memenangkan pertandingan melawan bahrain...dan yang sangat di harapkan pada waktu itu adalah kesatuan visi dari para suporter indonesia, untuk memberikan dukungan secara penuh kepada tim garuda!!!akan tetapi setelah melihat kejadian kemarin, saya merasa sedikit iba dengan mental kawan-kawan suporter, saya kurang tau persis akan hal ini, apakah pemicu terjadinya hal ini di karenakan oleh fanatik kedaerahan yang di timbulkan oleh hasrat dendam yang dibawa dari rumah ataupun memang sebuah mental LOSER yang sudah tertanam sejak jaman penjajahan, namun yang saya ketahui secara jelas ada sebuah perpecahan dalam lapangan ketika mereka diharuskan untuk bersatu memberikan sebuah dukungan kepada timnas indonesia, sekedar memberikan kritikan dan sekaligus saran buat kalian semua, "tolonglah bertindak seperti manusia indonesia yang memiliki adat istiadat dan penuh dengan norma kesopanan, dan cobalah untuk menghilangkan sebuah fanatik yang terlalu berlebihan agar tidak menimbulkan suatu perpecahan yang akut"...coba bayangkan apa jadinya kalau anda selalu mengcover kan diri anda secara berlebihan terhadap daerah anda sendiri, yang terjadi bukanlah perkembangan pada diri anda masing2..mlainkan sebuah keadaan yang stagnan bahkan sebuah penurunan..terus terang aja untung saat ini pemerintahannya di pegang oleh SBY, coba kalau suharto yang melihat kejadian itu semua? bakal hilang selamanya orang2 yang menjadi provokator kejadian tersebut..
sekali lagi "HIDUP DENGAN KEADAAN DAMAI DAN TENTRAM ITU LEBIH NIKMAT DARIPADA HIDUP YANG DI PENUHI DENGAN DENDAM YANG MEMBAWA KEHANCURAN"

YOGI said...

gw lihatnya dan faktanya
di jkt ga pernah ada saling membedakan antara bdg dan jkt
berbanding terbalik dengan bdg
yg semua di sama ratakan termasuk unsur2 permusuhan sepakbola
di sana tramat parah satu sisi jakarta dan bdg sangat ada geb yg jauh dan cewe2 jakarta pasti klw jadian dengan org bdg ataw berpacaran di pake ataw di rusak
Jangan tanyakan ke cowo coba kalian tanyakan ke cewe BDG sendiri ataw CEWE jakarta yg bersekaloah di BDG maka kalian akan tau FAKTANYA!!!!!!!!!!!!
dan kebuka mata hati dan pikiran tentang FAKTA WAAAH itu.
Jujur sebenarnya gw ga mau menulis ataw coment disini karna disuruh sahabat saya GITA RIZKY PRODIPTA, maka akhirnya saya tulis
Untuk insiden GBK kmarn malam, gw melihat ini ulah sebagian oknum bukan dari THE JAK MANIA, knapa saya bilang begitu karna pada faktanya THE JAK MANIA yg terdaftar, Terdaftar disini yg memiliki KTA resmi supporter THE JAK MANIA, semua berkumpul dan bersatu mendukung GARUDA di Hall basket senayan, yg akses masuk langsung ke Pintu 2,3,4 Tepat brada di belakang gawang dan klw kalian lihat tempat di mana atraksi bendera merah putih ketika lagu INDONESIA raya di kumandakan beserta RED FLAME MERAH MENYALA.
untuk ke jadian pengeroyokan yg di blg oleh media. Supporter dari BDG itu sangat jauh yg letaknya bukan arah menuju Hall basket.
Saya tidak mau menyalahkan media ataw berita yg bermunculan ini cuma dari kaca mata kecil saya, mungkin di karenakan jakarta selalu identik dengan THE JAK MANIA jadi setiap ke jadian di kota ini selalu mendarah daging di otak jakarta THE JAK MANIA :P
sooo, GARUDA DI DADAKU INDONESIA KEBANGSAANKU, JANGAN PERNAH MENJADI SUPPORTER MUSIMAN KARNA WALAW INDONESIA KALAH SAYA TETAP AKAN DATANG KE STADION MEMBERI SEMANGAT DAN MENJADI PEMAAIN KE 12 UNTUK GARUDA.

tulisanrusakblok G said...

makasih bung yogi yang udah ikhlas mau komentar di blog sampah ini..*emang gue minta sih
tadinya dia komen di fesbuk, abis itu gue bilang,yog ipindah di blog gue aja kalau mau komen, pasti ada informasi baru yang bisa lo bagi ke pmebaca.
dan bener disini gue dapet informasi baru, yang sebelumnya gue gak tahu soal KTA the jakmania, lalu mereka aka di poskan di titik2 tertentu.

tapi sepenglihatan gue, tempat duduk di belakang gawang itu gak ramai dan rada sepi bet deh yog?

YOGI said...

Mungkin, bgtu giit
karna pertandingan di lakukan
hari aktif masarakat kerja, dan masih banyak yg menikmati masa mudiknya, klw di adakan di hari libur mungkin akan berbeda tapi info yg ada tiket ludes terjual 80rbu.
mungkin klw hari libur bisa mencapai 100 ataw sampai 120 rbu
melebihi kapasitas stadion yg ada karna banyak yg mencari ceperan dari penjaga tiket masuk stadion.

Anonymous said...

Satu kata = BOBROK!

Semua ada yg di negeri ini memang masih jauh dibawah standar, yg saya maksud disini dengan standar adalah faktor pendidikan & kemiskinan.

Gara-gara 2 faktor tersebut, sistem demokrasi yg diterapkan di negara ini belum berjalan sesuai dengan yg diharapkan dari sistem demokrasi tersebut, mungkin memang seharusnya yg kita lakukan disini sebagai masyarakat adalah kita harus mengetahui sejauh mana kualitas & tanggung jawab kita masing2..

Dan bila disangkutpautkan dengan kasus seperti ini, pemerintah seharusnya menjadi tahu & tidak menganggap remeh faktor keamanan di negara ini yg masih bisa dibilang belum aman, ini juga berhubungan dengan faktor pendidikan & kemiskinan di negara ini yg masih dalam kategori : "rendah". Apabila saja program pendidikan 9 tahun tersebut benar2 diterapkan kepada setiap masyarakat yg benar2 membutuhkannya, saya yakin tidak akan terjadi tindakan anarki seperti yg dilakukan para supporter bola diatas, & apabila pemerintah jg mau serius memberantas kemiskinan, seharusnya mereka memulainya dengan cara "MENGHILANGKAN BUDAYA KORUPSI", mungkin dengan cara yg konkrit ini kemiskinan dapat benar2 diberantas atau setidaknya diminimalisir..

Saya rasa ini adalah sebagian dari uneg-uneg saya, apabila memang ada pihak-pihak yg kurang berkenan dengan komen dari saya ini, saya minta maaf.

-TERIMA KASIH-

"PRAY TO BE BETTER FOR INDONESIA"

tulisanrusakblok G said...

Salam bobrok :)